Petunjuk Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam Tentang Berkhutbah

2 menit baca
Petunjuk Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam Tentang Berkhutbah
Petunjuk Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam Tentang Berkhutbah

Pertanyaan

Bagaimanakah petunjuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang khutbah (khatib)?

Jawaban

Petunjuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam berkhutbah adalah bahwa ia berkhutbah pada hari Jumat di atas mimbar sejak mimbar dibuat. Ketika naik mimbar, ia menghadap kepada jamaah seraya mengatakan: “Assalamualaikum.”

Ketika ia berkhutbah, kedua matanya memerah, suaranya meninggi, dan rasa amarahnya bangkit. Seolah-olah ia sedang memperingatkan sebuah pasukan dan mengatakan “Musuh kalian akan datang di pagi atau sore hari.” Kemudian ia mengatakan:

“Amma ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah ‘Azza wa Jalla, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, seburuk-buruk perkara adalah sesuatu yang diada-adakan, dan setiap bidah adalah sesat”.

Ia selalu membuka khutbah dengan hamdalah. Ketika berkhutbah, ia sering menyampaikan Al-Qur’an. Khutbahnya mencakup puji-pujian kepada Allah atas karunia dan nikmat-Nya, sifat-sifat Allah yang sempurna, kemuliaan-Nya, pengajaran tentang dasar-dasar agama Islam, mengingatkan tentang surga, neraka, dan hari berbangkit, perintah untuk bertakwa kepada Allah, dan penjelasan tentang hal-hal yang dibenci dan diridhai oleh Allah.

Selain itu, pada umumnya ia berusaha keras untuk menyampaikan khotbah dengan ringkas, sebagaimana yang diriwayatkan bahwa ia Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إن طول صلاة الرجل وقصر خطبته مئنة من فقهه، فأطيلوا الصلاة وأقصروا الخطبة

“Sesungguhnya lamanya shalat dan pendeknya khotbah seseorang adalah pertanda ilmunya. Oleh karena itu, perlamalah shalat dan perpendeklah khutbah”.
(Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Sahihnya).

Apabila melarang sesuatu yang dilakukan seseorang, ia tidak menyebutkan namanya, tetapi ia hanya mengatakan: “Ada apa dengan orang-orang yang mengatakan ini dan itu.” Ia menyampaikan isi khutbah sesuai dengan kebutuhan dan kemaslahatan pendengar.

Kadang-kadang ia memendekkan khutbah sesuai dengan kebutuhan jamaah. Khutbah yang disampaikannya sewaktu-waktu lebih panjang dari khutbah rutinnya. Kadang-kadang ia menyampaikan khutbah khusus untuk wanita pada hari raya dan memotivasi mereka untuk bersedekah danmemperbanyak istighfar.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Salah satu lajnah ilmiah terkemuka di era sekarang ini, terdiri dari elit ulama senior di Arab Saudi, memiliki kredibilitas tinggi di bidang ilmiah dan keislaman.

Rujukan : Fatwa Nomor 15618

Lainnya

Kirim Pertanyaan