Makna Metafora Pada Nama-Nama

1 menit baca
Makna Metafora Pada Nama-Nama
Makna Metafora Pada Nama-Nama

Pertanyaan

Seorang syekh dalam kitabnya “Rudud wa Syubuhat ‘inda as-Salafiyah” berkata, “Orang-orang salafi memahami teks berdasarkan makna hakiki dan mengingkari makna metafora”. Apakah mereka memahami ayat ini berdasarkan makna hakikatnya? Contohnya firman Allah Ta’ala,

كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلا وَجْهَهُ

“Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Wajah-Nya (Allah).” (QS. Al-Qashash: 88)

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan bahwa Dia mempunyai tangan, mata, kaki, betis, dan sifat-sifat yang layak dengan zat-Nya. Apabila mereka memahaminya berdasarkan makna hakikinya, maka kita akan berkata kepada mereka, “Semuanya akan binasa; tangan, kaki, betis, dan setiap sifat-sifat Allah lainnya, dan tidak tersisa kecuali wajah”.

Apabila mereka berpendapat tidak demikian, maka kita katakan kepada mereka, “Kesimpulannya adalah teks itu dipahami secara metafora dan bukan secara hakiki (makna sesungguhnya), dan ini adalah bagian terpenting dari bait syair”. Kami ingin Anda berkenan untuk memberikan jawaban lengkap terhadap syubhat seperti ini.

Jawaban

Tatkala Allah Subhanahu melarang untuk berdoa kepada selain-Nya, sebabnya adalah dikarenakan makhluk tersebut akan binasa, karena dia tidak pantas untuk diminta dan disembah. Dia Subhanahu mengabarkan bahwa Dia sajalah yang berhak diminta dan disembah.

Dan dalam ayat ada ungkapan wajah, karena wajah adalah anggota badan yang paling mulia, seperti firman Allah Ta’ala,

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ (26) وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالإِكْرَامِ

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa.(26) Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 26-27)

Kedua ayat tersebut menyebutkan wajah Allah ‘Azza wa Jalla yang sesuai dengan kebesaran-Nya, karena menurut bangsa Arab bahwa wajah adalah ungkapan dari zat, dan al-Quran turun dengan bahasa mereka.

Keduanya (budaya dan bahasa Arab) memberitahu tentang kefanaan seluruh makhluk dan kekekalan Allah semata serta segala sifat-Nya. Dia Maha Hidup, tidak mati sedangkan makhluk mati dan kemudian akan dibangkitkan.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Salah satu lajnah ilmiah terkemuka di era sekarang ini, terdiri dari elit ulama senior di Arab Saudi, memiliki kredibilitas tinggi di bidang ilmiah dan keislaman.

Rujukan : Fatwa Nomor 18959

Lainnya

Kirim Pertanyaan