Apakah Melafalkan Niat Boleh Dilakukan ?

2 menit baca
Apakah Melafalkan Niat Boleh Dilakukan ?
Apakah Melafalkan Niat Boleh Dilakukan ?

Pertanyaan

Apakah melafalkan niat boleh dilakukan ataukah lebih utama dengan suara perlahan?

Jawaban

Niat merupakan ibadah, semua ibadah dilaksanakan karena adanya perintah. Tempat niat adalah hati dan melafalkannya adalah bidah karena Rasulullah Shallallahu `Alaihi wa Sallam, khulafaurrasyidin dan para sahabat beliau tidak melafalkannya.

Di dalam kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim dan selainnya disebutkan bahwasanya Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam berkata kepada seorang Arab pedusunan yang melakukan shalat dengan tidak baik,

إذا قمت إلى الصلاة فكبر ثم اقرأ ما تيسر معك من القرآن

“Jika kamu hendak mengerjakan shalat maka bertakbirlah lalu bacalah (ayat) Alquran yang mudah bagimu”

Dalam kitab Sunan dari Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam, beliau bersabda,

مفتاح الصلاة الطهور، وتحريمها التكبير، وتحليلها التسليم

“Kunci shalat adalah bersuci, sedangkan tahrimnya (saat diharamkannya melakukan perbuatan selain gerakan shalat) adalah takbir, dan tahlilnya (saat dihalalkannya melakukan perbuatan setelah shalat) adalah mengucapkan salam.”

Dalam Shahih Muslim dari Aisyah radhiyallahu `anha

أن النبي صلى الله عليه وسلم كان يفتتح الصلاة بالتكبير، والقراءة بالحمد لله رب العالمين

“Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memulai shalat dengan takbir dan memulai bacaan dengan membaca alhamdu li-llaahi rabbi-l-‘aalamiin (surah al-Fatihah)”

Diriwayatkan secara mutawatir dan menurut ijmak kaum Muslimin bahwa Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam dan para sahabat radiyallahu ‘anhum memulai shalatnya dengan bertakbir.

Tidak ada satu riwayat pun yang menunjukkan bahwa beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melafalkan niatnya, begitu juga para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Barangsiapa yang menganggap hal itu boleh, maka anggapan itu tertolak berdasarkan sabda Nabi Muhammad Shallallahu `Alaihi wa Sallam

من أحدث في أمرنا هذا ما ليس منه فهو رد

“Barangsiapa mengada-adakan dalam urusan (agama) kami ini yang bukan berasal dari urusan agama kami, maka perkara itu tertolak.” (Muttafaq ‘Alaih)

Dalam sebuah riwayat yang redaksinya dari Muslim rahimahullah

من عمل عملاً ليس عليه أمرنا فهو رد

“Barangsiapa melakukan suatu perbuatan yang tidak berdasarkan urusan (agama) kami, maka perbuatan tersebut tertolak.”

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Salah satu lajnah ilmiah terkemuka di era sekarang ini, terdiri dari elit ulama senior di Arab Saudi, memiliki kredibilitas tinggi di bidang ilmiah dan keislaman.

Rujukan : Fatwa Nomor (5166) | Link

Lainnya

  • Hukum Menjamak Shalat Karena Hujan Dan Jalan Becek Seorang Muslim wajib melaksanakan shalat lima waktu pada waktu-waktu yang telah...
  • Pertama, kisah yang dinisbatkan kepada Umar kami sama sekali tidak mengetahui sumbernya. Demikian pula dengan hadits yang Anda sebutkan...
  • Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa yang lebih utama adalah meletakkan kedua lutut sebelum kedua tangan ketika sujud, dan mengangkat...
  • Salat merupakan salah satu rukun dari lima rukun Islam setelah syahadat. Barangsiapa meninggalkannya karena mengingkari akan kewajibannya maka ia...
  • Utama atau tidaknya shalat di masjid yang satu dibanding yang lain adalah tergantung pada dekat atau jauhnya masjid tersebut,...
  • Perintah bagi imam dan makmum untuk mengucapkan salam ketika mengakhiri shalat sambil menoleh ke kanan dan ke kiri sampai...

Kirim Pertanyaan