Berangsur-angsur Dalam Penetapan Hukum-hukum Islam

2 menit baca
Berangsur-angsur Dalam Penetapan Hukum-hukum Islam
Berangsur-angsur Dalam Penetapan Hukum-hukum Islam

Pertanyaan

Apa perbedaan antara berangsur-angsur dalam pengharaman minuman keras dan perintah untuk berjihad karena kita diperintahkan untuk mematuhi larangan terakhir dalam (pengharaman) minuman keras dan diperintahkan melaksanakan jihad dengan syarat mampu?

Jawaban

Setelah wahyu agama sempurna dan hukum-hukum syariat telah stabil dengan wafatnya Nabi Shallalllahu `Alaihi wa Sallam, maka hukum-hukum Islam harus dipahami dan dipraktikkan secara akumulatif (keseluruhan) dan ketundukan kepada hukum-hukum syariat tidak boleh bertahap atau berangsur-angsur, sebagaimana dulu terjadi pada masa awal Islam.

Misalnya khamar (minuman keras), setiap muslim wajib meyakini sejak awal bahwa hukum meminumnya adalah haram. Barangsiapa tidak meyakini demikian, padahal dia tahu pengharamnya, maka dia murtad (keluar dari Islam) karena dia mengingkari perkara haram yang sudah maklum dalam agama Islam dan sudah ditunjukkan oleh dalil-dalil syariat dan ijmak para ulama.

Perintah untuk melaksanakan syariat dalam Islam bergantung kepada kemampuan orang yang dikenai kewajiban (mukalaf) sehingga seorang mukalaf tidak wajib melaksanakan perbuatan-perbuatan di luar kemampuannya atau yang akan membuatnya sulit dan susah. Setiap permasalahan sesuai konteksnya (kemampuannya).

Jihad, misalnya, diwajibkan terhadap seseorang (individu) dan dalam kondisi-kondisi umum. Semua itu menurut tingkatan motif (sebab) dan kondisi, tetapi tidak bisa disebut termasuk dalam masalah (bab) berangsur-angsur dalam penetapan hukum Islam. Allah Ta’ala telah berfirman,

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

” Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (QS. At-Taghaabun : 16)

Dalam riwayat sahih, Nabi Shallallahu `Alaihi wa Sallam bersabda,

إذا أمرتكم بأمر فأتوا منه ما استطعتم، وإذا نهيتكم عن شيء فاجتنبوه

“Jika aku menyuruhmu melakukan sesuatu, maka lakukanlah semampumu. Jika aku melarangmu melakukan sesuatu, maka jauhilah ia.”

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Salah satu lajnah ilmiah terkemuka di era sekarang ini, terdiri dari elit ulama senior di Arab Saudi, memiliki kredibilitas tinggi di bidang ilmiah dan keislaman.

Rujukan : Fatwa Nomor 19446

Lainnya

  • Jika realitasnya seperti yang disebutkan, maka ia tidak menanggung dosa atas keluarganya, berdasarkan sifat umum firman Allah Ta’ala لاَ...
  • Menuntut ilmu yang terkait dengan kesempurnaan iman dan penunaian kewajiban tidak ada sangkut pautnya dengan izin orang tua. Namun...
  • Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah ditanya, أي العمل أفضل؟ قال: إيمان بالله ورسوله، قيل: ثم ماذا؟ قال: الجهاد...
  • Kedua cara tersebut benar. Oleh karena itu, pilihlah yang mudah dan sesuai dengan kebutuhan Anda dan orang sekitar. Semoga...
  • Pertama, Dewan Ulama Senior di Kerajaan Arab Saudi telah mengeluarkan keputusan tentang membedah mayat orang mati yang isinya: Masalah...
  • Jika surat antara muslim dan muslimah dalam rangka untuk mengingatkan kepada Allah, memberi peringatan dan nasihat, menunjukkan kepada kebenaran,...

Kirim Pertanyaan