Membelanjakan Harta Benda Melebihi Kebutuhan

2 menit baca
Membelanjakan Harta Benda Melebihi Kebutuhan
Membelanjakan Harta Benda Melebihi Kebutuhan

Pertanyaan

Saya seorang laki-laki yang memiliki harta melimpah dari penghasilan halal. Alhamdulillah, saya juga menunaikan kewajiban saya untuk memberi nafkah keluarga, fakir miskin, dan kewajiban lainnya. Saya telah membangun sebuah rumah lengkap dengan perabotan mewah berharga fantastis dari luar negeri. Namun setelah itu, saya menjadi bimbang dengan apa yang saya perbuat, jangan-jangan saya termasuk orang-orang yang disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya,

إِنَّ اللَّهَ لاَ يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Luqman: 18)

وَلاَ تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.” (QS. Al-Israa’: 26)

Jawaban

Jika harta benda itu dibelanjakan melebihi kebutuhan, maka boleh jadi itu dianggap sebuah tindakan haram atau makruh. Banyak dalil yang melarang tindakan berlebih-lebihan atau mubazir. Allah Ta’ala berfirman,

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلاَ تُسْرِفُوا إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raaf: 31)

Allah juga berfirman,

وَآتِ ذَا الْقُرْبَى حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلاَ تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا (26) إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا (27) وَإِمَّا تُعْرِضَنَّ عَنْهُمُ ابْتِغَاءَ رَحْمَةٍ مِنْ رَبِّكَ تَرْجُوهَا فَقُلْ لَهُمْ قَوْلا مَيْسُورًا (28) وَلاَ تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ وَلاَ تَبْسُطْهَا كُلَّ الْبَسْطِ فَتَقْعُدَ مَلُومًا مَحْسُورًا

“Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.(26) Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.(27) Dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhanmu yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas.(28) Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (QS. Al-Israa’: 26-29)

Berdasarkan penjelasan di atas, kami menasihati Anda untuk mengambil jalan tengah (seimbang) di segala urusan. Kami juga menyarankan Anda untuk berkontribusi dalam kegiatan-kegiatan amal, misalnya bersedekah untuk karib kerabat dan saudara-saudara muslim Anda yang fakir, membantu pembangunan masjid, memberikan donasi kepada lembaga pendidikan penghafal Alquran dan para dai, mencetak buku-buku akidah, tafsir, ilmu Alquran, kitab hadis yang berbentuk matan (kitab induk) atau syarah (kitab ulasan), musthalah hadits, fikih, ushul fikih, kaidah fikih, dan berbagai bentuk kegiatan amal lainnya.

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Salah satu lajnah ilmiah terkemuka di era sekarang ini, terdiri dari elit ulama senior di Arab Saudi, memiliki kredibilitas tinggi di bidang ilmiah dan keislaman.

Rujukan : Fatwa Nomor 4359

Lainnya

Kirim Pertanyaan