Jual Beli Bangkai Binatang

1 menit baca
Jual Beli Bangkai Binatang
Jual Beli Bangkai Binatang

Pertanyaan

Apakah seseorang boleh menjual bangkai hewan kepada orang lain dan meminta pembayarannya?

Jawaban

Bangkai hukumnya haram, berdasarkan firman Allah Ta’ala,

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ

” Diharamkan bagimu (memakan) bangkai.” (QS. Al-Maa-idah : 3)

Jika diharamkan maka tidak boleh diperjualbelikan dan uangnya adalah haram. Seseorang tidak boleh memakannya kecuali dalam keadaan darurat. Dalam surah al-Maidah, Allah telah menyebutkan barang-barang yang diharamkan, salah satu yang disebutkan adalah bangkai. Lalu Allah berfirman setelahnya,

فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لإِثْمٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Maa-idah : 3)

Namun, pengharaman tidak termasuk bangkai belalang dan ikan sehingga boleh dijual. Sebab, Allah membolehkan ikan dan belalang baik dalam keadaan hidup maupun mati. Ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,

أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعًا لَكُمْ وَلِلسَّيَّارَةِ

“Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu,dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan.” (QS. Al-Maa-idah : 96)

Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengenai laut,

هو الطهور ماؤه الحل ميتته

“Air laut itu suci, bangkainya halal.”

Dan berdasarkan riwayat dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang bersabda,

أحل لنا ميتتان ودمان، فأما الميتتان: فالجراد والحوت، وأما الدمان: فالكبد والطحال

“Dihalalkan bagi kami dua macam bangkai dan dua macam darah. Dua macam bangkai tersebut adalah bangkai belalang dan bangkai ikan, sedangkan dua macam darah tersebut adalah hati dan limpa.”

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu `Ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Salah satu lajnah ilmiah terkemuka di era sekarang ini, terdiri dari elit ulama senior di Arab Saudi, memiliki kredibilitas tinggi di bidang ilmiah dan keislaman.

Rujukan : Fatwa Nomor 1818 | Link

Lainnya

Kirim Pertanyaan