Syarat Untuk Menerima Barang Dagangan

28 Juni 2022 2 Min Baca

Pertanyaan:

Apakah ketika menerima barang pembelian disyaratkan untuk memasukkannya ke gudang? Ataukah cukup dengan membawanya ke depan gedung perusahaan?

Jawaban Ulama:

Penerimaan barang dinyatakan sah jika telah dipindahkan dari tempat penjual ke tempat pembeli. Sebab, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang menjual barang dagangan di tempat ia dibeli, sampai barang itu dibawa para pedagang ke tempat tinggal mereka. Begitu menurut hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Tirmidzi. Jika pembeli telah memindahkan barang dagangan ke tempat yang bukan milik si penjual, maka hal itu sudah cukup. Ini didasarkan pada pernyataan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma,

كنا نشتري الطعام من الركبان جزافًا، فنهانا رسول الله صلى الله عليه وسلم أن نبيعه حتى ننقله من مكانه

“Dahulu kami membeli makanan dari para pengendara secara borongan (tidak tentu jumlahnya), maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang kami untuk menjualnya (kembali) hingga kami memindahkannya dari tempatnya (penjual pertama).”

Dalam riwayat lain disebutkan,

كنا في زمن النبي صلى الله عليه وسلم نبتاع الطعام فيبعث علينا من يأمرنا بانتقاله من المكان الذي ابتعناه فيه إلى مكان سواه قبل أن نبيعه

“Kami biasa mengadakan jual beli bahan makanan pada zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, lantas Nabi mengutus seseorang untuk memerintahkan kami agar memindahkan barang tersebut dari tempat pembeliannya ke tempat lain sebelum kami menjualnya kembali.””

Sementara dalam riwayat lain dia mengatakan,

كانوا يشترون الطعام من الركبان على عهد النبي صلى الله عليه وسلم فيبعث عليهم من يمنعهم أن يبيعوه حيث اشتروه، حتى ينقلوه حيث يباع الطعا

“Orang-orang pada zaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam biasa membeli bahan makanan dari kafilah dagang, maka Rasulullah mengirim utusan untuk melarang mereka menjual kembali barang-barang itu di tempat pembeliannya, hingga mereka memindahkannya untuk di jual di tempat lain.”

Dalam riwayat lain dia berkata,

رأيت الناس في عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا ابتاعوا الطعام جزافًا يضربون أن يبيعوه في مكانه حتى يحولوه

“Saya (Ibnu Umar) melihat orang-orang di zaman Rasulullah, apabila membeli bahan makanan secara borongan (tanpa ditimbang atau ditakar), mereka dilarang menjualnya kembali di tempat pembelian itu sebelum memindahkannya (ke tempat lain).”

Wabillahittaufiq, wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa Alihi wa Shahbihi wa Sallam.

Sumber & Rujukan

Kitab Rujukan / Sumber Asli
Fatwa Nomor 19722